Seminar Nasional bidang Filsafat dan Teologi akan digelar pada Rabu, 21 dan 23 Mei 2025, pukul 14.00–16.00 WIB, dengan fokus pada perkembangan serta tantangan teologi dalam dialog dengan filsafat. Acara ini akan menyoroti khususnya pendekatan metode dekonstruksi sebagai salah satu cara memahami ulang tradisi beragama dalam konteks kontemporer. Kehadiran para pemikir dan praktisi di bidang teologi diharapkan dapat memperkaya wacana akademis dan praksis keagamaan di Indonesia. Seminar ini menjadi ruang perjumpaan bagi para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat yang tertarik pada isu-isu filsafat agama. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya bersifat akademis tetapi juga reflektif terhadap dinamika kehidupan beriman.
Dalam seminar ini, hadir empat pembicara utama dengan topik-topik yang relevan dan menantang. Jiefard Stanley, M.Th. membuka diskusi dengan tema “Introduction to the thinking of John Caputo: Religion without religion is the way out of religion”. Ia akan membahas bagaimana gagasan Caputo mengenai agama tanpa agama memberikan alternatif untuk memahami iman dalam kerangka dekonstruksi. Selanjutnya, Diah Susanti, M.Th. akan menyajikan materi berjudul “The sense of God: atheology of the event with special reference to Christianity”. Pemaparannya berupaya menyingkap dinamika iman Kristen melalui perspektif ateologi dan peristiwa iman yang membentuk pengalaman religius.
Pembicara ketiga, Fientje Watak, M.Th., mengangkat tema “De Certeau and enquiry into believing” yang menyoroti relasi antara pengalaman beriman dan konstruksi sosial budaya. Watak akan menjelaskan bagaimana praktik keagamaan dapat dipahami bukan hanya sebagai dogma, tetapi juga sebagai pencarian makna yang terus berlangsung. Sementara itu, Djonny Pabisa menutup rangkaian presentasi dengan topik “Religious experience and the Phenomenality of God”. Materinya menekankan pentingnya pengalaman religius dalam menghadirkan fenomena ketuhanan yang dapat dipahami manusia. Dengan beragam perspektif tersebut, seminar ini diproyeksikan menjadi ruang dialog kritis yang membongkar batas-batas tradisi teologis.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pemahaman akan hubungan antara filsafat dan teologi. Metode dekonstruksi dipilih sebagai pisau analisis karena relevansinya dalam mengungkap lapisan-lapisan makna yang sering tersembunyi dalam teks dan tradisi agama. Dengan pendekatan ini, para pembicara sekaligus peserta diajak untuk lebih terbuka terhadap keragaman interpretasi iman. Seminar ini diharapkan dapat mendorong lahirnya diskursus baru yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberi sumbangan nyata bagi kehidupan beragama di tengah masyarakat plural. Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan pentingnya keberanian berpikir kritis dalam menghadapi tantangan zaman.

