Seminar Nasional bidang Filsafat dan Teologi kembali diselenggarakan pada 2 dan 6 Juni 2025 pukul 14.00–17.00 WIB dengan tema besar perkembangan serta tantangan teologi dalam dialog dengan filsafat, khususnya melalui metode dekonstruksi. Kegiatan akademik ini menjadi wadah bagi para pemikir untuk menelaah hubungan dinamis antara refleksi filosofis dan teologis dalam konteks kontemporer. Fokus pembahasan diarahkan pada bagaimana filsafat dapat membantu teologi merumuskan ulang konsep iman dalam dunia yang terus berubah. Seminar ini menghadirkan para narasumber dengan latar belakang keilmuan yang mendalam dan perspektif yang beragam. Kehadiran peserta dari berbagai kalangan diharapkan memperkaya dialog kritis dan reflektif.
Pada sesi pertama tanggal 2 Juni 2025, dua pembicara utama hadir dengan gagasan yang menantang. Harapan Simatupang memulai dengan topik “On God and the Between” yang mengulas konsep kehadiran ilahi dalam ruang relasi antarmanusia. Ia menekankan bagaimana pengalaman spiritual dapat dipahami dalam dinamika “antara” yang menghubungkan Allah dan manusia. Selanjutnya, Marselino Dionisius L. Raja membawakan topik “The Between and the Liturgy: on rendering W. Desmond’s Philosophy fruitful for theology”. Dalam pemaparannya, ia berupaya menafsirkan liturgi melalui filsafat Desmond untuk memperkaya praktik teologis.
Sesi kedua pada 6 Juni 2025 menghadirkan dua pembicara dengan kajian yang berfokus pada teologi politik dan pemikiran kontemporer. Fence Koloay membawakan materi “Rene Girard’s contribution to political theology: overcoming deadlocks of competition and enmity”. Ia menyoroti bagaimana teori Girard mengenai mimetisme dapat membantu memutus lingkaran persaingan dan permusuhan dalam masyarakat. Pembicara berikutnya, Rusen Magayang, menyajikan topik “Introduction to the thinking of Graham Ward”. Materi ini memperkenalkan gagasan Ward yang kritis terhadap budaya modern dan memberi tawaran baru dalam memahami iman di era globalisasi.
Melalui rangkaian diskusi ini, Seminar Nasional bidang Filsafat dan Teologi diharapkan mampu membuka ruang baru bagi perkembangan wacana akademik. Metode dekonstruksi dipakai untuk menggali ulang makna iman dan praktik keagamaan dalam kaitannya dengan tantangan sosial, politik, dan budaya. Dialog antara filsafat dan teologi tidak hanya dipandang sebagai kajian intelektual, tetapi juga sebagai sarana membangun refleksi iman yang relevan dengan realitas masa kini. Dengan kehadiran para pemikir yang berkompeten, seminar ini menjadi ajang untuk mendorong keberanian berpikir kritis dan kreatif. Pada akhirnya, kegiatan ini mengukuhkan pentingnya sinergi antara filsafat dan teologi demi menjawab kebutuhan zaman.

