https://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/issue/feedIndonesian Journal of Service2026-08-18T01:55:14+00:00Dr. Yusak Tanasyahytanasyah@gmail.comOpen Journal Systems<p>The <em data-start="4" data-end="46">Indonesian Journal of Services</em> (e-ISSN: <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20250507020608550" target="_blank" rel="noopener">3090-3785</a>) is a biannual, multidisciplinary scientific journal published by Indonesia Press, under the Department of Research and Community Services at Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (STTI); and <a href="https://ptaki.or.id/journals/" target="_blank" rel="noopener">the Indonesia Christians Theologian Association (PTAKI)</a>. It addresses national-level issues related to community services, covering a wide range of common challenges. The journal aims to share conceptual ideas and research findings in the field of community services. It features various activities conducted by STTI faculty and other university staff in addressing societal potentials, obstacles, challenges, and problems. These service activities involve community and partner participation, with the goal of enhancing societal welfare. Articles are published in May and November each year. Authors interested in submitting their work may do so in either English or Bahasa Indonesia.</p>https://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/article/view/149Model Pelayanan Pastoral Hybrid Berbasis Zoom dan Visitasi bagi Jemaat Berketerbatasan Mobilitas2026-04-19T11:10:51+00:00Gidion Gidiongideonjosila@gmail.com<p><em>This Community Service Program aimed to develop a hybrid pastoral ministry model through the integration of online ministry based on Zoom Meeting, targeted pastoral visitation, and social care services for congregants with mobility limitations at Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang. The program was implemented over a 13-week period from August to October 2022 involving 23 families experiencing mobility limitations that prevented them from regularly attending in-person worship services. The implementation methods included participant identification, assistance in the use of digital media, weekly worship services and pastoral mentoring through Zoom, pastoral visitation, and the provision of food assistance and multivitamins on a monthly basis. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews, and attendance monitoring throughout the program. The findings demonstrated that the hybrid ministry model significantly increased participant engagement, beginning with only seven participants and eventually reaching an average weekly attendance of seventeen participants. In addition, the program strengthened pastoral communication among congregants, families, and the church, while also establishing continuity of pastoral care for participants with long-term physical limitations. This initiative produced an adaptive and contextual hybrid pastoral ministry model for church ministry in the digital era.</em></p> <p> </p> <p>Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengembangkan model pelayanan pastoral hybrid melalui integrasi pelayanan daring berbasis Zoom Meeting, visitasi pastoral terarah, dan pelayanan sosial bagi jemaat dengan keterbatasan mobilitas di Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang. Program dilaksanakan selama 13 minggu pada Agustus–Oktober 2022 terhadap 23 keluarga yang mengalami keterbatasan mobilitas untuk mengikuti ibadah tatap muka secara rutin. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi peserta, pendampingan penggunaan media digital, ibadah dan pendampingan pastoral mingguan melalui Zoom, visitasi pastoral, serta pemberian bantuan sembako dan multivitamin setiap bulan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan monitoring kehadiran peserta selama program berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa model <em>hybrid ministry</em> mampu meningkatkan keterlibatan peserta, bermula dari hanya 7 peserta yang menghadiri hingga akhirnya rata-rata kehadiran tiap minggunya adalah 17 peserta, memperkuat komunikasi pastoral antara jemaat, keluarga, dan gereja, serta membangun kontinuitas pendampingan bagi peserta dengan keterbatasan fisik jangka panjang. Kegiatan ini menghasilkan model pelayanan pastoral hybrid yang adaptif dan kontekstual bagi pelayanan gereja di era digital.</p>2025-05-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Gidion Gidionhttps://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/article/view/94Dari Melengkapi Menuju Kedewasaan: Analisis Biblis dan Missiologis Efesus 4:11-16 bagi Kesehatan dan Multiplikasi Gereja Kontemporer2026-08-18T01:55:14+00:00Diah Susanti Murtiasihdiahsusantimurtiasih576@gmail.comJusuf Hutapeayusufhutapea08@gmail.com<p><em>The church's mission in the twenty-first century requires urgent evangelism and sustainable leadership development. This tension is acutely felt in Church Planting Movements (CPMs), where rapid multiplication often outpaces the development of qualified leaders. This article provides a comprehensive biblical and missiological analysis of Ephesians 4:11-16, examining its theological foundations and practical implications for contemporary church planting contexts. Through exegetical analysis of the Greek text, engagement with scholarly debates on cessationism and continuationism, and missiological application from South and Southeast Asian contexts, this article demonstrates that the five gifts—apostles, prophets, evangelists, pastors, and teachers—are essential for equipping believers for ministry, building up the body of Christ, and attaining spiritual maturity. The findings reveal that these gifts function as roles rather than fixed offices, that the apostolic and prophetic gifts continue in the church today, and that the Movement Strengthening Strategist (MSS) role provides a crucial bridge between rapid multiplication and pastoral development in CPMs. Drawing on empirical survey data from nineteen missionaries and case studies from Indonesian and South African church contexts, this article argues that church health and multiplication are not antithetical but complementary, requiring balanced leadership teams that embrace all five gifts for sustainable, healthy church growth.</em></p> <p><em> </em></p> <p>Misi gereja di abad kedua puluh satu membutuhkan penginjilan yang mendesak dan pengembangan kepemimpinan yang berkelanjutan. Ketegangan ini sangat terasa dalam Gerakan Penanaman Gereja (CPM), di mana multiplikasi yang cepat sering kali melampaui pengembangan pemimpin yang berkualifikasi. Artikel ini memberikan analisis biblis dan missiologis yang komprehensif tentang Efesus 4:11-16, mengkaji fondasi teologis dan implikasi praktisnya bagi konteks penanaman gereja kontemporer. Melalui analisis eksegetis teks Yunani, keterlibatan dengan perdebatan akademis tentang penghentian dan kelanjutan karunia, serta penerapan missiologis dari konteks Asia Selatan dan Tenggara, artikel ini menunjukkan bahwa kelima karunia—rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar—sangat penting untuk memperlengkapi orang percaya untuk pelayanan, membangun tubuh Kristus, dan mencapai kedewasaan rohani. Temuan mengungkapkan bahwa karunia-karunia ini berfungsi sebagai peran daripada jabatan tetap, bahwa karunia apostolik dan kenabian terus berlanjut di gereja saat ini, dan bahwa peran <em>Movement Strengthening Strategist</em> (MSS) memberikan jembatan penting antara multiplikasi cepat dan pengembangan pastoral dalam CPM. Dengan mengacu pada data survei empiris dari sembilan belas misionaris dan studi kasus dari konteks gereja Indonesia dan Afrika Selatan, artikel ini berargumen bahwa kesehatan gereja dan multiplikasi tidaklah bertentangan tetapi saling melengkapi, membutuhkan tim kepemimpinan yang seimbang yang merangkul kelima karunia untuk pertumbuhan gereja yang berkelanjutan dan sehat.</p>2026-09-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Diah Susanti Murtiasih, Jusuf Hutapeahttps://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/article/view/85Galatians 3:28 and the Call for Gender Justice in Indonesian Faith Communities: A Hermeneutics of Wounded Solidarity2026-07-06T12:06:26+00:00Bobby Kurnia Putrawanbkputrawan@gmail.comSuriawan Suriawanpdt.suriawan@gmail.com<p><em>Kekerasan berbasis gender (KBG) tetap menjadi krisis global yang meresap, sering diperkuat oleh tafsiran religius yang melegitimasi hierarki patriarkal. Meskipun Galatia 3:28 telah banyak dikaji dalam konteks Barat, potensinya sebagai sumber untuk merespons persekusi berbasis gender di komunitas iman Indonesia masih kurang berkembang. Artikel ini bertujuan membangun kerangka teologis kontekstual bagi gereja-gereja Indonesia untuk merespons KBG dengan menafsirkan Galatia 3:28 melalui hermeneutik pembebasan feminis, kritik pascakolonial, dan teori trauma. Studi ini menggunakan hermeneutik pembebasan feminis, mengikuti tarian hermeneutik empat langkah Elisabeth Schüssler Fiorenza (kecurigaan, ingatan, evaluasi, dan imajinasi kreatif), dilengkapi kritik pascakolonial Kwok Pui-lan, metode trauma-informed Serene Jones, dan analisis Michelle Eastwood tentang kepenulisan laki-laki dan ketidakhadiran perempuan, dengan menganalisis Galatia 3:28 secara intertekstual dengan Kejadian 1:27 dan teks-teks Paulus lainnya. Analisis menunjukkan bahwa formula baptisan "tidak ada laki-laki dan perempuan" (οὐκ ἔνι ἄρσεν καὶ θῆλυ) sengaja menggemakan dan mensubversi Kejadian 1:27, membongkar hierarki penciptaan; bahwa visi teologis kesetaraan dalam Kristus membawa imperatif etis bagi praksis gereja; dan bahwa komunitas iman Indonesia memerlukan strategi kontekstual pada tingkat liturgis, pastoral, dan struktural untuk menerjemahkan visi ini menjadi respons konkret terhadap KBG. Galatia 3:28 menyediakan fondasi teologis bagi respons berbasis iman terhadap KBG, tetapi potensi pembebasannya hanya teraktualisasi ketika penafsiran akuntabel terhadap pengalaman korban dan terwujud dalam praktik gerejawi. </em></p> <p><em> </em></p> <p>Gender-based violence (GBV) remains a pervasive global crisis, frequently reinforced by religious interpretations that legitimize patriarchal hierarchies. While Galatians 3:28 has been extensively examined in Western contexts, its potential as a resource for responding to gender-based persecution in Indonesian faith communities remains underdeveloped. This article aims to construct a contextual theological framework for Indonesian churches to respond to GBV by interpreting Galatians 3:28 through feminist liberation hermeneutics, postcolonial critique, and trauma theory. The study employs feminist liberation hermeneutics, following Elisabeth Schüssler Fiorenza's four-step hermeneutical dance (suspicion, remembrance, evaluation, and creative imagination), complemented by Kwok Pui-lan's postcolonial critique, Serene Jones's trauma-informed method, and Michelle Eastwood's analysis of male authorship and female absence, analyzing Galatians 3:28 intertextually with Genesis 1:27 and other Pauline texts. The analysis reveals that the baptismal formula "neither male nor female" (οὐκ ἔνι ἄρσεν καὶ θῆλυ) deliberately echoes and subverts Genesis 1:27, dismantling the creation hierarchy; that the theological vision of equality in Christ carries ethical imperatives for church praxis; and that Indonesian faith communities require contextual strategies at liturgical, pastoral, and structural levels to translate this vision into concrete responses to GBV. Galatians 3:28 provides a theological foundation for faith-based responses to GBV, but its liberating potential is actualized only when interpretation is accountable to victims' experiences and embodied in ecclesial practice.</p>2026-09-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Bobby Kurnia Putrawan, Suriawan Suriawanhttps://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/article/view/154Tubuh Kristus Sebagai Metafora Sosial-Eklesiologis Dalam Era Digital: Eklesiologi Kontekstual, Teologi Informasi, Dan Praksis Transformatif2026-08-18T01:08:39+00:00Harapan Simatupangsimatupangaj@gmail.comHari Pranotoharipranoto@gmail.com<p><em>The rapid advancement of digital technology has fundamentally transformed how humans understand relationships, form communities, construct identity, and express spiritual experiences. This transformation places the church at a crossroads between maintaining traditional ecclesiological patterns or conducting critical contextual reflection on changing times. The metaphor of the body of Christ, which in Pauline theology encompasses relational, participatory, and ethical dimensions shaping a social and communal ecclesiology, has often been reduced to an internal doctrinal spiritual symbol detached from social realities and technological developments. This study aims to reconstruct the body of Christ as a socio-ecclesiological metaphor in the digital era to produce transformative church praxis for the church in Indonesia. This research employs a qualitative-theological reflective approach with a conceptual analysis model, integrating biblical theology, systematic theology, and digital contextual theology through critical dialogue across theological disciplines. The findings indicate that the body of Christ must be understood as a living social-incarnational reality that calls the Indonesian church to a transformative presence amid social fragmentation, religious pluralism, and digital technological disruption. Analysis of 1 Corinthians 12, Romans 12, and Ephesians 4 reveals that this metaphor contains dimensions of social criticism, participatory ethics, and a call toward communal maturity that transcends individualistic and institutional understandings. The reconstruction of this metaphor encourages the Indonesian church to move beyond narrow institutional understanding and embody its calling as an agent of social transformation faithful to the missio Dei, manifesting love, justice, and hope in the midst of a pluralistic and digitalized society. </em><em>This study contributes to contextual theology and digital ecclesiology by formulating an integrative framework that unites biblical theology, systematic theology, and digital contextual theology, positioning the body of Christ as both a normative theological concept and an ethical-ecclesiological framework that restructures church praxis toward solidarity, participation, and missional orientation.</em></p> <p><em><br /></em>Perkembangan teknologi digital yang pesat telah secara mendasar mengubah cara manusia memahami relasi, membentuk komunitas, mengonstruksi identitas, dan mengekspresikan pengalaman spiritual. Transformasi ini menempatkan gereja pada persimpangan jalan antara mempertahankan pola-pola eklesiologis tradisional atau melakukan refleksi kritis kontekstual terhadap perubahan zaman. Metafora tubuh Kristus yang dalam teologi Paulus mengandung dimensi relasional, partisipatif, dan etis yang membentuk eklesiologi sosial dan komunal, seringkali direduksi menjadi simbol spiritual doktrinal internal yang terlepas dari realitas sosial dan perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi tubuh Kristus sebagai metafora sosial-eklesiologis dalam era digital guna melahirkan praksis gereja yang transformatif bagi gereja di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-teologis reflektif dengan model analisis konseptual, mengintegrasikan teologi biblika, teologi sistematika, dan teologi kontekstual digital melalui dialog kritis lintas disiplin teologi. Temuan menunjukkan bahwa tubuh Kristus harus dipahami sebagai realitas sosial-inkarnasional yang hidup yang memanggil gereja Indonesia untuk menghadirkan kehadiran transformatif di tengah fragmentasi sosial, pluralisme agama, dan disrupsi teknologi digital. Analisis terhadap 1 Korintus 12, Roma 12, dan Efesus 4 mengungkapkan bahwa metafora ini mengandung dimensi kritik sosial, etika partisipatif, dan panggilan menuju kedewasaan komunal yang melampaui pemahaman individualistis dan institusional. Rekonstruksi metafora ini mendorong gereja Indonesia untuk melampaui pemahaman institusional yang sempit dan menghidupi panggilannya sebagai agen transformasi sosial yang setia pada <em>missio Dei</em>, menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan di tengah realitas masyarakat yang plural dan terdigitalisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi teologi kontekstual dan eklesiologi digital dengan merumuskan kerangka integratif yang memadukan teologi biblika, teologi sistematika, dan teologi kontekstual digital, memposisikan tubuh Kristus sebagai konsep teologis normatif sekaligus kerangka etis-eklesiologis yang menata ulang praksis gereja menuju solidaritas, partisipasi, dan orientasi misional.</p>2026-10-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Harapan Simatupang, Hari Pranotohttps://indonesiastt.ac.id/journal/index.php/ijs/article/view/162Transformasi Liturgi Yahudi dalam Perjanjian Baru dan Relevansinya bagi Inkulturasi Gereja Kontemporer2026-08-18T01:08:01+00:00Imron Widjajaimron.widjaja@gmail.comYuniarti Batubarayunibatubara012@gmail.com<p><em>This article examines the liturgy and cultural rituals in the New Testament during the era of Jesus as theological and communal phenomena rooted in first-century Judaism. The study aims to analyze the relationship between Jewish ritual practices, the theological transformation effected by Jesus, and their relevance for the liturgical inculturation of the contemporary church in Indonesia. The research employs a qualitative method based on historical-theological literature study with a descriptive-analytical approach, utilizing New Testament texts, early Jewish traditions, the works of Flavius Josephus, and modern liturgical theology scholarship. The findings demonstrate that Jesus did not abolish the structure of Jewish ritual but transformed it toward a more Christological and soteriological meaning, shifting focus from external symbolism toward the formation of a community identity led by the Holy Spirit. This transformation subsequently influenced the worship patterns of the early church through practices of prayer, teaching, baptism, and the Eucharist as the core of apostolic Christian community life. The study also finds that liturgical inculturation in the Indonesian church context can be accomplished through the use of local symbols, language, and cultural expressions, provided they remain Christ-centered and do not deviate from biblical theological principles. </em><em>This research contributes to the development of contextual liturgical theology by integrating historical analysis of Second Temple Judaism, Christological reinterpretation of ritual, and practical application for multicultural Indonesian congregations.<br /></em></p> <p>Artikel ini mengkaji liturgi dan ritual budaya dalam Perjanjian Baru pada era Yesus sebagai fenomena teologis dan komunal yang berakar pada tradisi Yudaisme abad pertama. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara praktik ritual Yahudi, transformasi teologis yang dilakukan Yesus, serta relevansinya terhadap inkulturasi liturgi gereja kontemporer di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi literatur historis-teologis dengan pendekatan deskriptif-analitis, dengan memanfaatkan teks Perjanjian Baru, tradisi Yahudi awal, karya Flavius Yosefus, serta literatur teologi liturgi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus tidak menghapus struktur ritual Yahudi, melainkan mentransformasi-kannya menuju makna yang lebih kristologis dan soteriologis, dengan pergeseran fokus dari simbolisme lahiriah menuju pembentukan identitas umat yang dipimpin oleh Roh Kudus. Transformasi ini kemudian memengaruhi pola ibadah gereja mula-mula melalui praktik doa, pengajaran, baptisan, dan perjamuan kudus sebagai inti kehidupan komunitas Kristen apostolik. Penelitian ini juga menemukan bahwa inkulturasi liturgi dalam konteks gereja Indonesia dapat dilakukan melalui penggunaan simbol, bahasa, dan ekspresi budaya lokal selama tetap berpusat pada Kristus dan tidak menyimpang dari prinsip teologis Alkitabiah. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi liturgi kontekstual dengan mengintegrasikan analisis historis Yudaisme Bait Kedua, reinterpretasi kristologis terhadap ritual, dan penerapan praktis bagi jemaat multikultural di Indonesia.</p>2026-10-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Imron Widjaja, Yuniarti Batubara